Wahai Ibu

Ibu... selama engkau masih memilih bertahan dengan orang itu, maka selama itu pula engkau telah memilih jalan dimana tidak ada kebahagiaan untuk siapapun, bahkan untuk dirimu sendiri.

Baiklah...
Jika memang engkau mau melihat kita dan orang itu saling tersakiti dan menyakiti.

Tapi dalam pilihan yang engkau pilih ini aku juga akan memilih

Memilih menjadikan diriku sebagai oranglain, iya oranglain yang bukan siapa-siapa
Aku bukan anaknya,
Dan aku bukan anakmu selama engkau masih bersamanya

Maaf jika aku harus egois untuk ketenangan hatiku sendiri,
Namun sebenarnya aku hanya ingin melihatmu bahagia bu, bukan keluhan yang terus menerus aku dengar dari mulutmu tentang orang itu,
Dan bukan kesedihan yang aku dan engkau rasakan terus menerus karena orang itu.

Bu, tahukah engkau saat ini mungkin aku sudah tidak bisa sabar menghadapi ini semua
Aku sudah jengah dengan keadaan ini.
Aku merasa bahwa hampir 6 tahun yang lalu sebelum kita bersama orang itu, itu lebih membahagiakan, meskipun engkau bilang bahwa sebelumnya engkau tertekan karena status kesendirianmu itu...
Saat mendengar kalimat itu aku kecewa bu,
Mengapa harus engkau hiraukan tajamnya lisan orang-orang diluar sana ?
Bukankah lebih menyedihkan hidup dalam rumah yang bagai neraka dunia ?!
Kesehatan jiwa kita itu lebih penting bu, lebih dari segalanya...
Mungkin engkau tak tahu, berapa kali jiwaku terhantam badai ujian ini... hampir-hampir aku kehilangan imanku bu... hampir-hampir aku putus asa kepada-Nya... Astahgfirullahaladzim...

Namun kini biarlah sudah... semoga waktu yang berjalan dengan kehendak-Nya akan menyembuhkan hatiku,
Aku sudah lelah dan hanya bisa berpasrah
Dia lah pemegang hatiku, Allah lah yang mampu membolak-balikannya
Harapanku masih sama kepada-Nya, bahwa Dia akan segera membuka lembaran terakhir dalam ujian kita ini Bu,
Dan memberikan akhir yang indah bagi kita.

Aamiiin....


Komentar