Pelajaran Berharga
Suatu hubungan cinta yang tidak halal yang aku jalani dengan seseorang selama bertahun tahun, pada akhirnya sekarang begitu jelas telah berakhir dengan cara yang tidak kusangka sungguh menyakitkan untukku.
Kemarin tepat 2 hari yang lalu, akhirnya aku mendapatkan jawaban atas segala kecurigaanku selama ini.
kecurigaan bahwa seseorang yg masih tersimpan dalam hatiku itu kini telah bersama dengan seorang teman baikku, dan ternyata kecurigaan itu benar adanya.
Sesaat setelah aku melihat sebuah snapgram teman baikku itu dimana dalam snapgramnya itu telah begitu jelas bahwa laki laki yang menjadi pacarnya saat ini adalah seseorang yang sama, yang namanya masih tersimpan rapat dalam kotak harapan di hatiku.
Aku sungguh tidak mampu menahan emosiku saat itu, aku merasa sakit hati aku merasa kecewa aku merasa dipermainkan oleh kebaikan teman perempuanku itu, mungkin kalau boleh memilih... aku tidak usah diperlakukan baik olehnya jika pada akhirnya dia ternyata menyakitiku seperti ini.
Pada saat itu aku menyesali mengapa tidak mengatakan tentang perasaanku sebenarnya dari awal bahwa yang aku inginkan dari dirinya adalah keseriusan.
Flashback ke tahun 2016, tahun dimana aku memulai tugas akhirku saat itu, pergi jauh dari dirinya saat itu aku mulai merasa kesepian mengingat bahwa kami berdua selama rentang waktu saat itu jarang berkomunikasi melalui chat. Aku dulu berpikir mungkin dia juga sedang amat sibuk menyelesaikan praktek kerja lapangannya sehingga lebih baik akupun memprioritaskan kegiatan tugas akhirku. Namun ternyata, itulah awal yang menjadi penyebab kandasnya hubungan ku dengannya.
Rentang tahun 2016-2019 adalah tahun tahun terberat yang aku alami, skripsiku yang kuharapkan berjalan mulus nyatanya berantakan, masalah keluarga yang cukup serius, dan sikap orangtua ku sendiri yang membuat aku kecewa. Semua hal itulah yang menghantam jiwaku sehingga aku jatuh begitu dalam dan sama sekali tidak mampu berpikir bagaimana caranya untuk bangkit. Aku depresi yang berefek juga pada sakit fisik yang aku alami. Pada masa masa itu pula perasaan ku begitu sensitive, aku mudah sakit hati, aku mudah terbawa emosi jika ada perlakuan maupun perkataan oranglain yang memang pada saat itu kurang tepat, karena nyatanya pada saat itu memang tidak ada yang bisa memahami perasaanku dan bagaimana sikap yang tepat untuk mendukungku. Dan dia salah satu dari orang yang tidak mampu memahami itu. Aku merasa kecewa... disaat aku butuh dia kenapa dia tidak ada, namun kekecewaan ku itu tidak pernah aku sampaikan secara langsung pada dirinya saat itu, hanya kutunjukkan dengan sikap diamku. Ya itulah kesalahanku selanjutnya, dan itu terus berlanjut cukup lama. Dia terlebih dahulu lulus, sedangkan aku masih terpuruk dengan masalahku sendiri. Pada saat itu, aku memang tidak bisa mempriotaskan hubungan cinta tak halal ku itu, tapi aku lebih memprioritaskan masalahku sendiri, skripsiku, keluargaku, dan mentalku sendiri. Pada rentang waktu itu pula terkadang dia menghubungiku untuk sekedar menanyakan apa yang dia bisa bantu dalam rangka menyelesaikan skripsiku, tapi ternyata saat itu harapanku kepada manusia seakan akan telah hilang, aku merasa tidak ada yang mampu membantuku saat itu termasuk dia, tidak ada yang memahamiku saat itu. Membaca kalimatnya, kutangkap sebagai sebuah rasa kekecewaan dari dirinya namun itu juga amat sangat melukai hatiku saat itu, hingga akhirnya balasan yang kuberikan padanya ternyata juga begitu ketus dan tentu saja melukai perasaannya.
Satu-satunya sandaranku hanya Allah, aku mencoba untuk lebih taat dan memperbaiki ibadahku. Selama fase itu pula, tiba-tiba aku teringat mengenai hubunganku dengan dia yang memang tidak halal dan tiba-tiba aku merasa takut, ketakutanku akan dosa bertahun-tahun yang aku jalani bersamanya, serta ketakutanku jika pada akhirnya aku tidak bisa bersama dia. Hingga pada akhirnya saat itu, aku memilih untuk menjaga jarak yg sebenarnya memang sudah semakin jauh antara aku dan dia. Aku berniat melepaskan dia namun masih dengan harapan suatu saat Allah akan mempersatukan kami kembali dalam ikatan yang halal. Dan kesalahanku selanjutnya adalah, aku yang tidak pernah bisa mengungkapkan kepadanya mengenai keinginanku itu, aku tidak pernah menjelaskan maksud dari sikapku yang tiba-tiba semakin menjaga jarak darinya, padahal perasaanku sebenarnya masih ada untuknya.
Dan satu hal yang tidak pernah aku pikirkan saat mengambil keputusan itu adalah, bagaimana perasaanku nanti apakah siap jika pada akhirnya aku tidak bersamanya, dan bagaimana jika dia tiba-tiba menjalin hubungan dengan orang yang aku kenal. Namun entah mengapa, saat itu aku begitu mudahnya melepaskannya, hingga kemudian aku terlambat menyadari bahwa aku ternyata belum siap melepaskannya, belum siap menerima kalau pada akhirnya dia bukan jodohku, dan sama sekali tidak bisa membayangkan jika dia menjalin hubungan dengan seseorang yang aku kenal.
Pada akhirnya, semua ketakutanku itu kini menjadi kenyataan....
Niatku bersama dia suatu saat untuk ke jenjang yang lebih serius dengan cara tidak lagi berpacaran ternyata berujung pada ini semua..
Ternyata Allah menunjukkan dia bukan seseorang yang terbaik untukku
begitu pula aku, ternyata aku memang bukan yang terbaik untuknya.
Sekalipun hatiku saat ini masih sakit dan kecewa, namun aku mencoba bersyukur atas pelajaran berharga dari semua ini
Bahwa memang apa yang Allah larang itu, sebuah hubungan cinta yang tidak halal itu, meskipun niatnya untuk serius dan suatu waktu akan menghalalkan, pada akhirnya tetap akan berakhir tidak baik dan tidak bahagia.
Sehingga apa yang aku jalani bersamanya pun berakhir seperti ini.
Aku baru menyadari segala sesuatu niat baik jika caranya salah pun tetap tidak akan mendapat penerimaan.
Dan juga, mengenai sikapku selama ini yang merupakan alasan kenapa dia pergi, aku bisa menjadikannya bahan untuk introspeksi diri, bahwa memang selama ini sikapku salah, sikapku begitu kasar dan acuh kepadanya. Aku jadi belajar bahwa dalam hubungan dengan siapapun baik dengan pasangan halalku nanti maupun dengan keluarga sangat penting yang namanya untuk selalu berkomunikasi, apapun itu harus disampaikan, jangan diam jangan dipendam, dan harus jelas maksud dan kata-katanya serta disampaikan dengan cara yang baik dan hati yang tenang agar tidak terjadi miskomunikasi. Ya hati yang tenang, meskipun diri sendiri sedang memiliki masalah yang amat serius, aku harus bisa tetap calm dan mengontrol emosiku dalam proses komunikasi dengan oranglain yang berada di luar lingkaran masalah itu.
Semalam aku masih menangis, sesak, sakit, kecewa, kesal dan menyesal, campur aduk menjadi satu
Tapi kemudian pada hari ini aku lebih fokus menyadari kesalahan kesalahanku.
Aku memang tidak baik untukknya, begitu pula dia tidak baik untukku
aku memang tidak mampu berkomunikasi dengan baik dengannya, begitu pula dia terhadapku
aku memang tidak mampu memahami dia, begitupula dia terhadapku
sehingga memang sudah sepantasnya aku tidak akan bisa bersama dirinya
Satu kalimat terakhir pada chatnya kemarin....
"Kamu pun bisa dapetin kebahagian baru, ga harus sama aku"
Kemarin kalimat itu masih tidak mampu aku terima karena dengan bodohnya aku masih dalam kondisi mengharapkannya, tapi hari ini aku sudah mampu setuju dengan kalimatnya, dan aku sangat yakin bahwa Allah akan memberikan kepadaku seseorang yang jauh lebih baik dari dirinya, yang tentu saja bisa menerima semua kekuranganku, memahami kepribadian dan mentalku, dan bersama dirinya nanti aku akan bisa saling melengkapi, bersama dirinya, akan terasa tentram hati ini.
Mungkin memang jalan yang harus aku lalui semenyakitkan ini, hanya inilah satu satunya cara menurut Allah yang paling tepat untuk menyadarkan aku sebagai hambanya yang keterlaluan ini.
Sebenarnya masih ada banyak pelajaran berharga lainnya, namun tak sempat aku tulis kembali disini
Semoga kelak ketika aku membaca tulisan ini, aku sudah mampu sepenuhnya ikhlas menerima semua hal yang menyakitkan ini
semoga kelak luka itu sudah tidak terasa dan tergantikan dengan kebahagiaan yang menentramkan jiwa.
Dulu...dia hadirDisaat kamu tidak peduli pada siapapunKecuali dirimu sendiriDan kini...dia pun pergiDisaat kamu tidak mengharapkan siapapunKecuali dia untuk kembali
-Dedy Chandra H
Mengapa rasa sesal itu selalu hadir disaat paling akhir disaat semua telah berlalu? dan mengapa tiap kesempatan yang hadir itu tidak pernah digunakan saat masih dimiliki? Jawabannya, tidak apa-apa. Sebab yang pergi memang seharusnya untuk pergi, dan yang nanti bersama adalah dia yang sudah seharusnya berada disisi -Dedy Chandra H
Komentar
Posting Komentar